Nasehat bagi kami Juru Kisah PPMI :


Setelah 20 Tahun, Dua Hal Yang Membuat Aku Harus Hijrah Dari Pendongeng Menjadi Juru Kisah; Ketakjuban Pada Mukjizat Kisah Al-Quran dan Kegagalanku Untuk Merubah Akhlak Dengan Mendongeng. Tidaklah Terlambat Karena Al-Quran Merevolusi Keyakinan & Akhlak.
Jika Hati Anda Bersih Dengan Iman Melalui Tazkiyatun Nafs, Lisan Kita Basah Oleh Dzikir Serta Terdapat Qaulan Tsaqila, Ruh Dari Ucapan Anda Adalah Keinginan Kuat Mengubah Akhlak, Maka Jangan Khawatir, Tak Akan Ada Pendongeng Tersohor Kelas Dunia Manapun, Yang Akan Melampaui Kesangupan Anda Menggerakkan Hati Anak-Anak Bergegas Menjadi Sholeh Serta Mengalirkan Cinta Dihati Pendengar Kita, Semua Atas Izin Allah.

Kak Bimo PPMI

Dewan Syuro

jurukisahppmi.org

Kenali Nabi Kita

Sekenal apa kita pada Sang ‪#‎Nabi‬ ﷺ? Mohon izin merangkum beberapa sifat beliau dari hadits-hadits dalam Asy Syamail karya Imam At Tirmidzi:
  1. Perawakan Sang Nabi ﷺ tidak tinggi, tidak pendek. Rambutnya tidak keriting, tak pula lurus. Wajah beliau tak bulat, bukan pula persegi.
  2. Kulit Sang Nabi ﷺ cerah, putih kemerah-merahan. Rambutnya disisir ketika sebahu, digerai ketika sepapak daun telinga. Dahi beliau lebar.
  3. Alis Sang Nabi ﷺ melengkung panjang, tebal, & nyaris bertaut di tengah. Di antara keduanya terdapat urat yang memerah kala beliau marah.
  4. Bola mata Sang Nabi ﷺ indah & hitam, bulu matanya lentik menawan. Hidungnya mancung, bagian atasnya memancar cahaya. Dua pipinya datar.
  5. Janggut Sang Nabi ﷺ menggaris dari depan telinga, menebal menuju dagu. Mulutnya lebar, gigi-giginya besar, dari selanya memancar cahaya.
  6. Dari bawah janggut Sang Nabi ﷺ menggalur ke bawah bebulu halus, lewat leher, melebat di dada, melajur bagai tongkat hingga ke pusarnya.
  7. Leher Sang Nabi ﷺ jenjang & indah. Perut beliau sama rata dengan dadanya nan bidang. Jarak antara kedua bahu lebar. Persendiannya kokoh.
  8. Lengan Sang Nabi ﷺ panjang, tapak tangan lebar & tebal, jemarinya ramping. Telapak kaki beliau cekung, halus hingga airpun tak menempel.
  9. Sang Nabi ﷺ berjalan dengan langkah kaki lebar, begitu langsam seolah menuruni bukit, tubuh beliau ikut berguncang anggun tiap langkah.
  10. Bila menoleh, ‪Sang‬ Nabi ﷺ berbalik dengan seluruh badan, lebih sering menunduk dibanding mendangak, melihat dengan sepenuh perhatian.
  11. Dulu Nabi ﷺ suka menyisir rambut ke belakang mirip Ahli Kitab. Saat nyata keingkaran mereka, beliau selisihi dengan menyisir belahnya.
  12. Sang Nabi ﷺ suka meminyaki rambutnya. Kata Anas, uban beliau nan kurang dari 20 helai jadi tersamar. Beliau gemar merapikan janggutnya.
  13. Sang Nabi ﷺ menyukai celak itsmid yang beliau gunakan menjelang tidurnya. Tiga kali untuk kanan & kiri; sejuk & menumbuhkan bulu mata.
  14. Di antara pakaian kesukaan Sang #Nabi ﷺ adalah gamis yang putih, hibarah merah buatan Yaman, & baju sampir 2 helai warna hijau & hitam.
  15. Sang Nabi ﷺ berminyak wangi di seluruh tubuhnya. Istri beliau mengoleskan di sekujur badan, lalu beliau sendiri harumkan bagian ‘aurat.
  16. Jari manis Sang Nabi ﷺ dilingkari cincin perak bermata batu hitam Habasyah, ditulisi “Muhammad Rasul Allah”; dilepas jika ke peturasan.
  17. Sang Nabi ﷺ menyimpan selalu selimut Khadijah; kenangan menenangkan saat beliau terguncang wahyu pertama, & di dalamnya beliau diseru.
  18. Sang Nabi ﷺ gesit berolahraga lari. Kadang bersama istri. Kadang anak-anak kecil; beliau lombakan siapa dulu yang mampu tangkap beliau.
  19. Nabi ﷺ suka minum susu dari wadah yang sama dengan istrinya, ditepatkan di bekas bibirnya. Anggur, zaitun, & buah lain; segigit berdua.
  20. Tidur Sang Nabi ﷺ tidak tengkurap. Jika miring berbantal tapak tangan, kaki disilang. Jika telentang, kaki kanan diletak di atas kiri.
  21. Kadang dalam renung khusyu’, Sang Nabi ﷺ duduk dengan 1 lutut diangkat menempel perut. Suka bersandar bantal, tapi bukan di saat makan.
  22. Nabi ﷺ suka mandi bersama & bercanda bermain air dengan istri-istrinya, bahkan pada Saudah nan tua. Usia tak menghalangi kemesraan itu.
  23. Penutup kepala kesayangan Nabi ﷺ ialah surban hitam, dikenakan dengan ujung menjatuh di pundak. Sandalnya bertali dua dari kulit hewan.
  24. Makanan kesukaan Nabi ﷺ -yang jarang beliau nikmati- adalah paha kambing. Camilannya hais; campuran kurma rendam, kismis, & susu masam.
  25. Nabi ﷺ yang penuh cinta memberi nama bebarang miliknya; dari perkakas rumah-tangga, bejana, gelas, kuda, unta, keledai, pedang, tombak.
  26. Nabi ﷺ makan roti dari tepung utuh tak diayak (dulu dianggap rendah; kini sehat berserat), lauknya garam, minyak zaitun, cuka, & labu.
  27. Nabi ﷺ tak pernah mencela makanan. Jika menyukainya, beliau memakannya penuh syukur. Jika tidak suka, beliau cukup diam tanpa komentar.
  28. Nabi ﷺ mengerjakan sendiri segala urusan rumahtangga yang beliau bisa; menambal baju sobek, menjahit sandal rusak, hingga memerah susu.
  29. Nabi ﷺ amat suka bersiwak bersih gigi; saat hendak shalat, hendak tilawah, hendak menemui tamu/sahabat, juga tiap kali menjumpai istri.
  30. Nabi ﷺ tak pernah jijik pada istri yang sedang haidh (seperti kebiasaan Arab & Yahudi); beliau tetap bermesra, hanya menghindari jima’.
  31. Saat ‘Aisyah haidh, Nabi ﷺ bersandar di pangkuannya sambil tilawah; atau meletakkan kepala di antara kaki ‘Aisyah, tidur dalam hangat.
  32. Bahkan tuk shalat malam, Nabi ﷺ minta izin pada istri nan lagi bersama di ranjang; “Apa kau ridha jika malam ini aku menghadap Rabbku?”
  33. Karena sempitnya kamar Nabi ﷺ, tahajjud beliau menghadap ‘Aisyah berbaring. Jika hendak sujud, diisyarati kaki sang istri agar ditekuk.
  34. Sang Nabi ﷺ amatlah pemalu, lebih tersipu dibanding gadis dalam pingitannya. Tak pernah terbahak, hanya senyum tulusnya semanis madu.
  35. Sang Nabi ﷺ tak suka diistimewakan. Jika berbagi peran di perjalanan beliau selalu mencari peluang berkontribusi; hatta menyiapkan api.
  36. Jika dihadapkan pada pilihan, Sang Nabi ﷺ selalu mengambil hal yang ringan & mudah; selama ia tak jatuh pada apa yang dilarang Allah.
  37. “Tak pernah kulihat”, kata Anas, Nabi ﷺ marah atau membalas laku buruk atas diri beliau. Beliau marah jika Allah & agamaNya dinista.”
  38. “Pernah 3 x hilal berlalu”, ujar ‘Aisyah, “Tiada nyala api di rumah kami.” Apa penyambung hidup Nabi ﷺ?, tanya ‘Urwah. “Kurma & air .”
  39. Kelembutan Sang Nabi ﷺ tak terhalangi & tak menghalangi ibadahnya. Umamah binti Abil ‘Ash, sang cucu, sering digendong dalam shalatnya.
  40. Al Husain naik ke punggung #Nabi ﷺ saat sujud. Beliau tak bangkit hingga Al Husain puas bermain. Nanti, beliau minta maaf pada hadirin.
  41. Saat para cucu jadikan Nabi ﷺ kuda-kudaan, merangkak kian-kemari, kata Abu Hurairah, “Tunggangan kalian paling mulia di langit & bumi”.
  42. Nabi ﷺ lalu tersenyum bersabda, “Pun penunggangnya, adalah yang terbaik.” Ya Allah, curahi kami rahmatMu tuk kelak bersamanya di surga.
 
Ustadz Salim A Fillah

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh


Spirit dan Gerakan Indonesia Berkisah Indonesia Berkah bagi PPMI adalah sebuah keharusan, karena permasalahan yg sudah begitu panjang dr potret pengasuhan ortu dan pendidikan di bangsa ini …
Dahulu belum ada bahkan tdk banyak sperti kami sebagai Pencerita, Atau pendongeng dulunya …
Orang tua dan para Guru-guru dahulu tdk perlu melakukan ekpresi wajah dan gerak serta olah vokal dr variasi suara-suara, tapi kesungguhan dan keyakinan mereka akan manfaat Kisah ini yg menjadikan … Sampai sekarang kisah-kisah itu begitu berkesan pd kita …

Hari ini … Tradisi itulah yg PPMI akan ajak dan bangun kembali … 
Hanya berharap dan tawakal pada Allah Gerak Dakwah Kisah ini akan menghantarkan sesungguhnya pd perubahan akhlaq Generasi Penerus … Mari Berkisah karenanya adalah *Sunnah dan Penerus Risalah* 
*Raih Indonesia Berkah melalui Kisah*


Kak Ari PPMI

Jurukisahppmi.org

Resume kajian Siroh Nabawiyah, ustadz Budi Ashari, Lc, Tema : ”13 tahun Pondasi Mekkah”


Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diberikan Allah Ta’ala tugas selama 23 tahun menjadi Rasul.  23 tahun itu kita bagi menjadi 2 : 

1. Fase MAKKAH selama 13 tahun

2. Fase MADINAH selama  10 tahun

Bacalah al Quran kemudian bandingkan isi Al quran antara ayat ayat Makkiyah dan ayat ayat Madaniyah. Perhatikan perbedaan perbedaannya. para ulama telah memberikan kajiannya kepada kita setelah mereka teliti.  Dan itulah konsep, itulah urutan, itulah cara mendidik, itulah pendidikan islam yang sesungguhnya.  
Salah satu hal yang menarik dalam ayat-ayat Makiyyah adalah bahwa ayat ayat ini dipenuhi dengan KISAH. Ini karena ayat ayat Makiyyah adalah ayat  ayat yang membangun pondasi aqidah dan akhlak .Ayat ayat Makiyyah adalah ayat ayat yang dipenuhi dengan kisah yang sangat banyak. 

Maka itu artinya…KISAH merupakan konsep yang sangat mahal dan islam tidak suka dengan dongeng . Yang di inginkan oleh Allah dan Rasul adalah KISAH, bukan dongeng, bukan kisah fiktif, tetapi sejarah. Kisah adalah salah satu konsep pendidikan islam, konsep pendidikan keluarga kita yang sangat mahal. 
Alangkah ruginya kita ketika hari ini di kurikulum, terutama di usia anak anak, di usia awal mereka , tidak ada kurikulum sejarah islam.  Kurikulum KISAH harusnya ada untuk membangun konsep diri mereka,  untuk membangun aqidah dan akhlak mereka.  Kalaupun ada tentang  kurikulum kisah ternyata kisah fiktif.  Atau hanya merupakan cerita, dongeng negeri-negeri, wilayah- wilayah yang tidak jelas kebenarannya, tidak valid darimana sumbernya . Sangat disayangkan.  Padahal kisah merupakan konsep yang sangat mahal yang dengan itulah dulu Rasul dan para sahabat mendidik generasinya.  

Mengapa dengan berkisah? Karena berkisah juga merupakan sesuatu yang sangat disukai orang. Tidak ada diantara kita yang tidak suka dengan kisah. Kita bisa duduk berlama lama dengan kisah tapi mungkin kita tidak bisa duduk berlama lama membicarakan tentang hukum. Tidak semua orang menyukai itu. Maka dari itulah pembahasan tentang hukum, pembahasan tentang beban syariat, itu nanti dikota Madinah. Ini pelajaran mahal buat kita. 
Makanya pantas jika kita punya generasi yang terus kita jejali dengan kewajiban, umpamanya kewajiban sholat, berbakti kepada orang tua ,membaca al quran, silaturahim, sedekah, tapi kalau tanpa pondasi… Itu hanya menjadi beban bagi mereka. Tanpa pondasi yang kuat mereka akan  ambruk.   Saat ambruk itulah kita akan terkejut,  kita akan berkata.  “saya sudah mendidiknya dari kecil mengapa disaat usia sudah besar ternyata mereka berubah?” itu karena kita tidak menyiapkan pondasinya.  Sehingga ketika beban semakin berat maka,  ambruklah bangunan islam generasi kita. 

Ibu, bapak, ayah, bunda, para guru, ustadz, ustadzah, evaluasi apa yg sdh kt lakukan, dongengan yg sering kita smpaikan di rumah, masjid dan sekolah!!!
Ganti dongeng binatang dengan kisah yang valid.  Ganti dengan  memberikan KISAH  siroh nabi dan kisah para sahabat generasi terbaik kepada mereka.

Karena ini soal mendirikan PONDASI.
Jaga Niat seluruh Juru Kisah

Kak Ari PPMI

Renungan kisah RASULULLAH…


Tiba-tiba seorang kakek muncul ketika Rasulullah sedang berkumpul bersama para sahabatnya di dalam masjid selepas mengerjakan shalat jamaah.
”Wahai, Rasulullah. Saya sangat lapar. Tolonglah saya. Dan saya tidak punya pakaian kecuali yang menempel di badan sekarang. Berilah saya…”
Sebenarnya Rasulullah sangat iba menyaksikan keadaan orang tua itu. Wajahnya pucat, bibirnya membiru dan tangannya agak gemetar memegangi tongkatnya.
Cuma kebetulan beliau sedang tidak punya apa-apa. Sudah habis diberikannya kepada orang lain.
”Maaf, pak tua. Tidak ada yang dapat saya berikan saat ini. Tetapi jangan putus asa. Datanglah kepada anak saya, Fatimah, mungkin ada sesuatu yang bisa diberikannya sebagai sedekah.”

Maka pergilah kakek itu kepada Fatimah. Di depan rumahnya kakek itu berseru, ”Wahai putri Rasulullah. Aku lapar sekali. Dan tidak punya apa-apa. Aku datang kepada ayahmu, tetapi beliau sedang tidak punya apa-apa. Aku disuruhnya datang kepadamu. Mungkin engkau punya sedekah untukku?”
Fatimah kebingungan. Ia tidak memiliki barang yang cukup berharga untuk disedekahkan.
Selaku keluarga Rasulullah ia telah terbiasa menjalani hidup amat sederhana, jauh di bawah taraf kehidupan rakyat jelata. 
Yang dianggapnya masih lumayan berharga cuma selembar kulit kambing yang biasa dipakai sebagai alas tidur Hasan dan Husain. Jadi, itulah yang diambil dan diserahkannya kepada si kakek.
Orang tua itu lebih kebingungan daripada yang memberikannya. Ia sedang lapar dan tidak punya apa-apa. Mengapa kepadanya diserahkan selembar kulit kambing? Buat apa?
”Wahai Putri Rasulullah. Apakah kulit kambing itu dapat mengenyangkan perutku dan dapat kupakai untuk menghangatkan badanku?” tanya orang tua itu.

Fatimah tidak bisa menjawab. Ia kembali masuk ke dalam rumahnya, mencari-cari benda lain yang pantas disedekahkan. ia bertanya-tanya, mengapa ayahku mengirimkan orang ini kepadaku, padahal Ayah tahu aku tidak lebih kaya daripada beliau?
Sesudah termenung sejenak barulah ia teringat akan seuntai barang pemberian Fatimah binti Abdul Muthalib, bibinya. Barang itu amat indah, namun ia merasa kurang pantas memakainya karena ia dikenal sebagai putri dari pemimpin umat. Barang itu adalah sebuah kalung emas.
Buru-buru diambilnya benda itu dari dalam kotak simpanannya, lalu diserahkan kepada si kakek.
Orang itu terbelalak melihat benda yang kini digenggamnya. Begitu indah. Pasti amat mahal harganya. Dengan suka cita orang itu pergi menemui Rasulullah kembali di masjid.

Diperlihatkannya kepada beliau kalung emas pemberian Fatimah. 
Rasulullah hanya berdoa,_”Semoga Allah membalas keikhlasannya.”
Salah satu sahabat nabi yang kaya raya, Abdurrahman bin Auf, berkata, ”Wahai, bapak tua. Maukah kau jual kalung itu kepadaku?”
Kakek itu menoleh kepada Nabi, _”Bolehkah saya jual, Ya Rasul?”_
”Silakan, kalung itu milikmu,”  sahut Nabi.

Orang tua itu lantas berkata kepada sahabat Abdurrahman bin Auf, _”Berikan kepadaku beberapa potong roti dan daging untuk mengganjal perutku, dan sekedar biaya kepulanganku ke kampung.”_
Abdurrahman bin Auf mengeluarkan duapuluh dinar dan seratus dirham, beberapa potong roti dan daging, pakaian, serta seekor unta untuk tunggangannya ke kampung.
Dengan gembira kakek itu berkata, ”Terima kasih, wahai kekasih Allah. Saya telah mendapatkan lebih daripada yang saya perlukan. Bahkan saya telah merasa menjadi orang kaya.”
Nabi menjawab, ”Terima kasih kepada Allah dan Rasul-Nya harus diawali dengan berterimakasih kepada orang yang bersangkutan. Balaslah kebaikan Fatimah.”
Orang tua itu kemudian mengangkat kedua tangannya ke atas, ”Ya Allah, aku tak mampu membalas kebaikan Fatimah dengan yang sepadan. Karena itu aku mohon kepada -Mu, berilah Fatimah balasan dari hadirat -Mu, berupa sesuatu yang tidak terlintas di mata, tidak terbayang di telinga dan tidak terbetik di hati, yakni surga -Mu, Jannatun Na’im.”

Rasulullah menyambut doa itu dengan amin seraya tersenyum ceria.
Beberapa hari kemudian, budak Abdurrahman bin Auf, bernama Saham datang menghadap Nabi sambil membawa kalung yang dibeli dari orang tua itu.
”Ya Rasulullah,” ujar Saham. ”Saya datang kemari diperintahkan Tuan Abdurrahman bin Auf untuk menyerahkan kalung ini untukmu, dan diri saya sebagai budak diserahkannya kepadamu.”
Rasulullah tertawa. ”Kuterima pemberian itu. Nah, sekarang lanjutkanlah perjalananmu ke rumah Fatimah, anakku. Kalung ini tolong serahkan kepadanya. Juga engkau kuberikan untuk Fatimah.”

Saham lalu mendatangi Fatimah di rumahnya, dan menceritakan pesan Rasulullah untuknya.
Fatimah dengan lega menyimpan kalung itu di tempat semula, lantas berkata kepada Saham,  ”Engkau sekarang telah menjadi hakku karena itu, engkau kubebaskan. Sejak hari ini engkau kembali menjadi orang merdeka.”
Saham tertawa nyaring sampai Fatimah keheranan, ”Mengapa engkau tertawa?”
Bekas budak itu menjawab,  ”Saya gembira menyaksikan riwayat sedekah dari satu tangan ke tangan berikutnya.
Kalung ini tetap kembali kepadamu, wahai putri junjungan, namun karena dilandasi keikhlasan, kalung ini telah membuat kaya orang miskin, telah menjamin surga untukmu, dan kini telah membebaskan aku menjadi manusia merdeka.”
*****

Saudaraku tercinta… 

Kebaikan yg kita lakukan akan kembali kepada si pelaku… janganlah lelah berbuat kebaikan…
Teladani Rasulullah saw dan keluarganya…
Nabiyullah yang membawa cahaya bagi seluruh umat…
*Rahmatan lil ‘alamin…*

Page 1 of 2