PENTINGNYA PERHATIAN UNTUK ANAK                  

Aku baru saja berbelok ke kiri masuk ke jalan raya setelah melewati jalan di sebuah perkampungan. Tiba-tiba dari arah kanan terdengar suara kenalpot yang sangat rebut dan keras dari sepeda motor yang melintas dengan cepat mendahuluiku.  Suara itu terasa demikian penuh di telingaku sehingga membuat mataku terus saja mengikuti ke arah mana sepeda motor itu berlalu.  Seorang pemuda berusia sekitar 20 tahun tampak  tak peduli mengendarai sepeda motor ‘ributnya’.                

Astaqfirullah ternyata anak itu sudah berhasil mengambil perhatianku sehingga membuat aku sekian detik tak berkedip.  Ia telah berhasil untuk mengambil perhatian di lingkungan sekitarnya.  Dari kisah di atas dapat kita simpulkan  yaitu bahwa anak tersebut mempunyai tujuan dari suara kenalpot sepeda motornya yang ia buat menjadi sangat bising.  Apa tujuannnya?  Ketika terdengar suara rebut dari sesuatu yang ada pasti membuat semua orang memandang ke arahnya, berarti tujuannya adalah untuk mendapatkan perhatian.  Lantas pertanyaannya adalah mengapa ia meminta perhatian?  Ia adalah seorang anak yang berusia remaja ,yang beranjak dewasa membutuhkan perhatian.  Bukankan seharusnya ia dewasa yang sudah dapat mengendalikan sikap yaitu tidak lagi bersikap ‘caper’, atau cari perhatian karena ia berada dalam usia yang sudah matang.  Namun terkadang hal seperti ini masih banyak kita jumpai di tengah masyarakat kita. Kenapa hal itu bisa terjadi?                

Ada 3 kebutuhan dasar anak menurut WHO, yaitu :

  1. Kebutuhan Asuh :kebutuhan akan nutrisi dan layanan kesehatan
  2. Kebutuhaan Asih : Kasih sayang, perhatian dan dukungan
  3. Kebutuhan Asah : Menstimulus seluruh kecerdasan dan ketrampilannya

Kebutuhan perhatian adalah kebutuhan dasar anak yang di perlukan untuk keberlangsung tumbuh dan kembang anak sehingga ia dapat tumbuh menjadi dewasa dengan jiwa raga yang sempurna.  Seorang anak yang tidak tercukupi kasih sayang , perhatian dan dukungan motivasi dari kedua orang tuanya tentulah dapat menjadi pribadi yang bermasalah di kemudian hari.

Rasulullah adalah sebaik-baik contoh dalam memberikan perhatian kepada anak kecil.  Baik itu Ia contohkan kepada Ibrahim anaknya sendiri maupun kepada cucu-cucunya Hasan dan Husen.  Kepada anak cucunya sendiri, Rasulullah adalah orang paling perhatian.  Rasulullah selalu mengunjungi putranya Ibrahim, meski dia sangat sibuk.  Ia selalu mencium, memeluk dan membelai Ibrahim dengan penuh kasih sayang.  Maka ketika Ibrahim wafat, sebelumnya semua putra Rasulullah wafat di usia anak-anak, Rasulullah sangat sedih.  Matanya penuh dengan linangan air mata.  Dengan cucu-cucunya. Rasulullah kerap kali membawa mereka di atas panggungnya.  Rasulullah memposisikan diri seperti kuda, sementara cucu-cucunya naik di atas punggungnya.  Hal ini tidak hanya dilakukan Rasulullah bersama Hasan dan Husen , tapi juga dengan Umama, cucu perempuannhya.  Sebagaimana tertera dalam buku Versi Terdalam: Kehidupan rasulullah Muhammad  saw. (A. Muchlishon Rochmat).

Abdullah bin Ja`far bin Abi Thalib meriwayatkan bahwa saat nabi  pulang dari safar beliau menyempatkan diri bertemu cucu-cucunya lalu memboncengnya bersama beliau  dalam satu kendaraan (HR. Muslim, Baihaqi, dan Nasai).

Umar bin Khattab pernah menyaksikan Rasulullah  sedang mengendong Hasan dan Husain, seorang di bahu kanan dan yang seorang lagi di bahu kiri baginda. Maka Umar berkata kepada Hasan dan Husain, “Kuda yang paling baik ialah di bawah kamu (Rasulullah).” Rasulullah  melirik kepada cucunya lalu berkata, “Dan penunggang kuda yang paling mahir adalah kamu berdua.” 

Rasulullahpun berpesan dalam sebuah hadits:

  جَاءَ أَعْرَابِى إِلَى النَّبِى صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ ، فَمَا نُقَبِّلُهُمْ ، فَقَالَ النَّبِى صلى الله عليه وسلم أَوَأَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ “.

Datang seorang Arab Badui kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, “Apakah kalian mencium anak-anak laki-laki?, kami tidak mencium mereka”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau Allah mencabut rasa rahmat/sayang dari hatimu.” (HR: Al-Bukhari no 5998 dan Muslim no 2317)

Mencium anak adalah ungkapan keimanan karena buah rasa Ar Rahman dan Ar Rahim Nya Allah kepada kita manusia yang mana sudah selayaknya karena Allah maka kitapun mencintai dan menyayangi anak anak kita. Mereka adalah amanah terbaik yang Allah berikan.  Bagi yang tidak menyayangi dan pernah memberikan kasi hsayang kepada anaknya dalam bentuk perhatian, belaian dan ciuman maka Allah dapat mencabut rasa kasih sayang itu sehingga begitu banyak penyimpang perilaku yang dapat dilakukan oleh anak-anak kita yang tumbuh dalam kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua.

Na’uzubillah…semoga Allah senangtiasa memberikan kemampuan kepada kita untuk tetap memberikan kasih sayang, perhatian dan dukungan kepada buah hati kita sehingga Allah limpahkan keberkahan untuk kita semua, aamiin.

Gambar: www.hellosehat.com  

Kak Erna PPMI Jawa Timur