Solo, sore diantara  tingkah  deras hujan 11 Agustus 2020.Hampir semua orang mengenal mie  instant, karena memang rasanya sangat enak di lidah. Pilihan rasanya pun beraneka ragam. Mau coba yang kuah maupun goreng semua  tersedia dalam berbagai pilihan rasa.  Dan harganya pun  sangat terjangkau. DItambah lagi makanan ini mudah untk dimodifikasi ke dalam berbagai ragam masakan. Adapun faktor utama yang membuatnya sangat dikenal dan digemari banyak orang adalah kepraktisannya dalam menyajikan.  Hmm…pastinya semua sepakat dengan hal ini.

Sekarang ini berbagai hal instant sudah tersedia di sekitar kita, tidak hanya mie…ada aneka minuman,nasi, bahkan bubur  juga berbagai aplikasi instant  sekarang dapat mudah dijumpai dan sangat membantu  kehidupan kita. Namun sangat disayangkan  dalam dunia pendidikan ada juga orang-orang yang menginginkan hasil dengan proses yang instant. Padahal dalam pendidikan terutama pendidikan anak pembiasaan merupakan salah satu faktor utama dalam membentuk karakter  anak. Dan hal ini tidak bisa diperoleh dalam hitungan hari, minggu, bulan, bahkan mungkin makan waktu bertahun –tahun. Tidak jarang saya kesulitan menjawab pertanyaan dari orang tua yang menanyakan perkembangan anaknya ketika saya baru berinteraksi dengan anak dalam hitungan hari atau  minggu.

Dalam rentang masa itu saya masih berusaha mengenali karakter anak-anak dan belum bisa membuat atau mengusahakan perubahan apapun, bahkan sebagai guru kelas yang notabene membersamai anak dalam rentang waktu setahun terkadang belum bias membuat perubahan apapun. Sering kali saya mengamati ada beberapa orang tua yang enggan melaksanakan pembiasaan pada anaknya dan serta merta menginginkan hasil yang optimal pada anaknya. Kok anak saya belum bisa ini ya? Belum bisa itu ya? Yang sebenarnya semua pertanyaan itu kembali kepada diri kita masing-masing sebagai orang tua. Apalgi yang ditanyakan dan dikhawatirkan hanya sebatas nilai angka ( innalillahi… ) Sekecil apapun karakter anak yang kita kehendaki, harus kita bangun dengan pembiasaan tiap harinya. Melelahkan terkadang… tapi memang itulah salah satu tanggung jawab kita sebagai orang tua.

Sebagai contoh saya punya kenalan yang menginginkan anak laki-lakinya (yang saat itu masih kelas satu SD)  mempunyai kebiasaan sholat subuh berjamaah di masjid,untuk itu  beliau rela membangunkanya pagi buta menggandengnya ke kamar mandi untuk bersuci bahkan menggendongnya ke masjid setiap hari, padahal anaknya cukup gendut tuh… masyaallah. Selain terus berdoa kepada Sang Penguasa hati tentu saja pembiasaan ini merupakan salah satu  hal penting yang harus terus kita usahakan agar anak-anak kita kelak mempunya karakter yang baik. Semoga anak-anak kita  bisa menjadi generasi Rabbani, penyejuk mata dan hati, serta tabungan jariyah jika kelak masa kita berlelah di dunia sudah purna… wallahu a’lam.

 

Sumber gambar : https://baladena.id/

Pembelajaran tahun ajaran baru 2020/ 2021 merubah pola pembelajaran yang sudah ada sebelum sebelumnya. Kondisi ini menuntut guru dan orang tua untuk untuk kreatif mengemas pembelajaran, walaupun pembelajaran dilaksanakan  di rumah. Salah satu metode pembelajaran yang bisa diaplikasikan dalam pembelajaran di era pandemi adalah metode BERKISAH. Bagaimana teknik pelasanakannya?

✅Guru bisa membuat rekaman rekaman / video cerita/ kisah teladan lalau diupload via wa, atau media sosial sekolah, baik itu Facebook, Instagram, atau  youtube sekolah.

✅Guru bisa bercerita via lifestreaming Facebook, Instagram atau youtube. Tentukan kapan jadwal pelaksanaannya sehingga orang tua bisa sama2 menonton pembelajarannya.

✅Guru bisa bercerita melalui aplikasi meeting dan  pembelajaran, misalnya google meet, zoom dan aplikasi yang lainnya. Beritahu jadwal pelaksanaanya dan linknya kepada wali murid sehingga para orang tua dan anak bisa sama2 menyimak.

✅Orang tua bisa bercerita langsung kepada anak melalui buku buku cerita/kisah teladan atau melalui modul /bahan cerita yang disiapkan oleh pihak sekolah.Moment saat ini adalah moment yang tepat untuk mensyiarkan gerakan Orang Tua berkisah untuk putra putrinya.

Semoga guru dan para orang tua bisa terus membiasakan metode berkisah untuk anak anak dalam rangka menanamkan akhlakul karimah.

Selamat dan semangat berkisah 😊

Oleh :
Muhammad Mansur, M.Pd.I (Kak Mansur)
Ketua Persaudaraan Pen cerita Muslim Indonesia (PPMI) Jawa Barat

Sumber gambar : https://images.app.goo.gl/ornsWqztJVVtz3ccA

 

S

ASBABUN NUZUL NAMA BUAH HATI

Apalah arti sebuah nama.. Itulah kata kiasan yang sejak kecil kuketahui... Dulu sempat heran kenapa aku dan kedua kakakku diberi nama oleh kedua orangtua kami yang berbau Eropa?... Eva.. Rina... Irma.. Meski nama tengahnya tetap islami...

  • Eva Dzurriyah Ridwan
  • Rina Ismatillah Ridwan
  • Irma Mukmillah Ridwan

Padahal kakak sulungku yang laki laki diberi nama sundanis sekali.. ASEP.  Namun lagi lagi kiasan Apalah arti sebuah nama menghapus keheranan ku.

Seiring waktu ketika menginjak dewasa dan melihat beberapa teman dan saudara seusia  menikah,  punya momongan.. Selalu suprise menanyakan nama buah hatinya.. Dan dari kebiasaan itulah maka timbul keinginan kuat dan  dengan bismillah  nawaitu jika kelak Allah taqdirkan punya keturunan maka nama mereka harus SAMA.  Sama makna dan artinya berharap keadilan ku untuk mereka.Allah Yang Maha Baik mengabulkan keinginanku..

Sepekan saat si  sulung lahir nama pun diberikan. Sesuai dengan niat dan keinginan maka dengan diskusi yang cukup alot akhirnya si sulung diberi nama ADZKA MA'ZIYA RAHIMI yang artinya orang  cerdas yang kuat akan kasih sayangnya.. Anak kedua pun lahir.. Berjenis kelamin lakilaki.. Seperti niat dr awal namanya harus sama.. Maka anak lanang ini pun diberi nama DZAKA MUTAHASSIN RAMZAN yang kalau diartikan menjadi Orang Cerdas semakin baik dan  nyata .Dan selanjutnya tepat di hari kemerdekaan Republik Indonesia lahirlah anak ke 3 yang diberi nama ADZKIA MAKMUNA ROZZANA yang  artinya cerdas, dapat dipercaya dan serius/sabar Dan terakhir si bungsu lahir ketika usia bunda nya menginjak diatas 40 thn plus kondisi ginjal tinggal 1.  Sempat debat juga dengan dokter kandungan... Karena dokter tahu riwayat ku... Inti nya dokter mengkhawatirkan kondisi ku, pun demikian dengan terapis langgananku... Berharap kelak kalau lahiran di SC dengan alasan aman.

Qodarulloh Allah lebih TAHU yang terBAIK untuk hamba-Nya. Diiringi dengan  perjuangan dan do'a tulus dari semua bertepatan dengan pilkada Gubernur Jawa Barat lahir dengan proses normal  seorang bayi laki laki yang  diberi nama DZIKYA MUHAMMAD ROSIHUL ILMIYang artinya orang cerdas terpuji serta ilmu nya yang luas... Nama Dzikya diberi nama Muhammad.. Karena mengikuti saran kanjeng Rosululloh yang jika di amanahi anak laki laki lebih dari 1 maka berilah nama Muhammad.  Kalau dilihat dari ilmu cocoklogi,  semua nama panjang  anak anak berinisial sama yaitu MR.  Inisial MR ini sama dengan nama bunda nya (Mukmillah Ridwan)  juga kakek dr pihak bunda nya (Muhammad Ridwan) Adzka -  Dzaka - Adzkia - Dzikya .. Nama yang sama makna dan artinya pun sama. Berharap dengan sangat jika nama nama tsb  dipanggil olehku sehari lebih dr 50x maka Allah Kabulkan mereka menjadi insan yang CERDAS. Bukankah apa yang di ucapkan oleh seorang ibu adalah do'a...? Demikian sekelumit kisah ku tentang memberikan nama untuk anak anakku

Irma Mukmillah Ridwan

Bunda nya Adzka - Dzaka - Adzkia - Dzikya

PPMI Jabar

AJAKLAH ANAKMU KE MASJID

Anak merupakan titipan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan sudah sepatutnya kita sebagai orang tua membimbing dan mendidik mereka agar senantiasa berada di jalan kebenaran. Artinya, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.Salah satu yang harus dibiasakan kepada anak ialah mengenalkannya untuk melaksanakan shalat. Sebab, shalat ini merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim. Termasuk bagi anak, ketika ia telah mencapai masa balighnya. Untuk itu, dari sejak usia dini, kita harus melatihnya belajar shalat.                

Nah, jika Anda memiliki anak lelaki, alangkah baiknya, sebagai ayah, Anda mengajaknya untuk melaksanakan shalat berjamaah. Sebab, buah hati merupakan generasi penerus bangsa, yang nantinya akan melanjutkan perjuangan muslim untuk memakmurkan masjid. Selain itu, dengan shalat berjamaah, akan membangun kesadaran pada anak tentang pentingnya kebersamaan. Rasulullah SAW pun Mengajarkan Abdullah bin Syaddad berkata, “Rasulullah keluar dari rumahnya menemui kami yang sedang menunggu beliau untuk shalat Maghrib atau shalat Isya, sedangkan beliau menggendong Hasan atau Husein. Rasulullah maju dan meletakkan cucunya, kemudian melakukan takbir shalatnya. Dalam salah satu sujud dari shalatnya itu, beliau lama sekali melakukannya.” Ayah perawi mengatakan, “Maka kuatkan kepalaku, ternyata kulihat anak itu berada di atas punggung Rasulullah yang sedang dalam sujudnya. Sesudah itu aku kembali ke sujudku.”                

Setelah Rasulullah menyelesaikan shalatnya, orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau telah melakukan sujud dalam shalatmu yang begitu lama, sehingga kami mengira terjadi sesuatu pada dirimu karena ada wahyu yang diturunkan kepadamu.” Rasulullah menjawab, “Semua itu tidak terjadi, melainkan anakku ini menunggangiku sehingga aku tidak suka menyegerakannya untuk turun sebelum dia merasa puas denganku,” (HR. An-Nasa’i).  Abu Qatadah Al-Ansari RA meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah shalat sembari menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah. Apabila sujud, beliau meletakkan cucunya itu ke tanah dan apabila bangun, beliau menggendongnya kembali. ( HR. Al-Bukhari) Lihatlah, Rasulullah ﷺ saja sudah memberi contoh kepada kita untuk mengajak anak shalat berjamaah. Jika kita tidak melakukan itu, bagaimana mungkin kita memiliki generasi penerus yang akan menegakkan shalat berjamaah? Padahal begitu banyak kebaikan bagi umat Islam dari shalat berjamaah. Jangan Usir Mereka Dari Masjid Islam sangat peduli dengan anak-anak, dan memerintahkan para ayah dan orang tua kerabat yang bertanggungjawab pada anak-anak untuk menyuruh anak-anaknya shalat sejak umur 7 tahun. Dan tempat yang benar dalam mengajarkan anak-anak shalat dan membaca Al-Quran dan hukum-hukum tajwid dan materi-materi keislaman lainnya, adalah Masjid. Seperti itu petunjuk dan pedoman yang diajarkan Rasulullah pada ummatnya terkait interaksi kita kepada anak-anak di masjid. Sehingga siapapun tidak boleh mengusir anak-anak dari masjid, sebab mereka adalah pemuda-pemuda harapan masa depan.

Allah memerintahkan kita agar meneladani Rasulullah pada segala hal, baik terkait urusan dunia maupun akhirat, sehingga sudah selayaknyalah kita mengikuti dan meladani Rasulullah dalam membiasakan anak-anak kita untuk mendatangi masjid dan bermain di masjid, serta tidak membiarkan mereka ngumpul-ngumpul tidak jelas di ujung gang atau jalan yang hanya akan menyebabkan akhlak mereka menjadi buruk karena pengaruh lingkungan dan teman-teman mereka yang tidak sehat. Dan andainya pun sebahagian anak-anak yang datang ke masjid sering menjadi gangguan bagi orang-orang yang sedang shalat, baik karena suara tangisan mereka, jeritan dan lengkingan suara, namun jamaah masjid tidak boleh meresponnya dengan kasar atau memarah-marahi anak-anak tersebut atau orang tua anak-anak, yang hanya akan menambah-menambah keributan baru saja. Serahkan hal itu kepada para pengurus masjid atau remaja masjid untuk menyelesaikan masalah anak-anak tersebut dengan bijak dan baik seperti metode yang dilakukan oleh Rasulullah. Dan yang perlu diingat dan dicatat dan diamalkan adalah sikap lemah lembut dalam menyelesaikan masalah anak-anak di masjid. Rasulullah pernah bersabda, “Segalanya sesuatu yang dibarengi dengan kelembutan niscaya akan membuatnya menjadi lebih cantik dan indah. Jika kelembutan terenggut, segalannya akan menjadi rusak dan jelek.” (HR: Muslim)

Mari kita ingat pesan pesan Sultan Muhammad Al Fatih (Penakluk Konstantinopel),  " Jika suatu saat masa kelak kamu tidak lagi mendengar bunyi bising dan gelak tertawa anak-anak riang di antara shaf-shaf Shalat di masjid-masjid, maka sesungguhnya takutlah kalian akan kejatuhan Generasi muda kalian di masa itu " ... Perhatikan Masjid di kawasan kita, Sunyi atau masih ramaikah dengan celoteh dan canda khas anak-anak atau sudah terasing dari masjid dengan khusuk di depan TV Game dan Gadget. Jangan pernah larang anak-anak untuk pergi ke masjid dengan alasan ribut dan mengganggu "kekhusyuan" shalat. Karena ketika hilang suara-suara kecil mereka yang khas di masjid-masjid kita. Itulah tanda Keruntuhan dan jatuhnya generasi mendatang.

 

Sumber gambar : kompasiana.com

 Melahirkan, memelihara, serta mendidik anak dengan baik adalah mewujudkan kemaslahatan agama dan dunia, di dunia dan akhirat. Hati orangtua gembira karena anak-anak dapat menjadi penolong di kala orangtua berusia lanjut, dalam menunaikan kebutuhan. Lebih dari itu, keberadaan anak - anak merupakan penyambung kehidupan orangtua setelah wafat, berupa pahala amal kebajikan. Anak juga mengekalkan nama baik dan mewarisi harta pusaka orangtua.  

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, " jika seorang anak Adam mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu sedekah jariyah, Ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo'akan." (HR. Muslim). Abu Hurairah juga berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, " seorang hamba dinaikkan derajatnya. Maka ia berkata,"wahai Tuhanku, bagaimana aku mendapatkan ini?' Allah Berfirman,' Dengan Istighfar Anakmu."

Seorang anak memiliki hak yang banyak dan beragam, ada yang bersifat materi dan ada pula yang maknawi. Semua hak itu termasuk dalam Kulliyat khams , 'yaitu lima hal pokok', dengan mana ajaran syariat banyak berkaitan. Kelimanya mencakup menjaga jiwa, akal, kehormatan, agama, dan harta. Secara global hak - hak ini bisa kita sebut sebagai "pemeliharaan umum" yang di bawahnya terdapat cabang - cabangnya seperti pemeliharaan kesehatan, akhlak, dan agama.  Masing - masing aspek ini mempunyai kontribusi dalam pembentukan individu dalam kadar tertentu hingga ia dewasa dan mandiri.

Salah satu tahap terpenting pada perkembangan manusia adalah usia 0-5 tahun yang biasa di sebut dengan masa emas (golden age). Inilah masa di mana perkembangan Intellectual Quotient (IQ), Emotional Quetient (EQ), dan Spiritual Quetient (SQ) sangat dibutuhkan. Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan proses pendidikan yang mengarah pada ketiga aspek perkembangan tersebut secara seimbang dengan berbagai metode. Mengabaikan masa ini sama artinya mengabaikan aset terpenting dalam kehidupan seseorang. Karena, seorang anak hanya sekali berada pada tahap golden age. Selebihnya ia akan berada pada tahap yang berbeda, dan masa ini tidak akan pernah kembali lagi.

Orangtua yang mendambakan putra - putri yang shalih/shalihah hendaknya mulai menanamkan nilai-nilai tersebut pada masa itu. Sehingga, ketika sang anak telah balig - ketika ia mulai dikenakan kewajiban taklif- akan jauh lebih mudah untuk mengajarkannya beribadah, sebab sang anak telah ditanami nilai-nilai spiritual terlebih dahulu. Dengan demikian, orangtua memiliki kesempatan yang lebih besar untuk memiliki anak yang kelak akan mendoakannya setelah ia wafat, sekaligus memberikan  hak kepada anak berupa penjagaan dari api neraka

Page 1 of 5