Tersebutlah seorang Sholih yang mendapatkan hikmah dari Allah, kehidupannya senantiasa dalam bimbingan Allah SWT. Luqman juga seorang yang sabar dan juga senantiasa belajar. Luqman hidup pada jaman Nabi Dawud Alaihissalaam. Dia adalah seorang ayah berkulit hitam dari negeri Habasyah.

Pada suatu ketika, Luqman bertamu ke rumah nabi Dawud AS. Saat itu Nabi Dawud sedang merajut besi, dengan menggunakan tangannya, sangat asyik. Belum ada mesin seperti sekarang. itu dikerjakan sangat teliti, sehingga menjadikan keheranan Luqman AS. Luqman AS melihatnya dengan perasaan aneh, di kepalanya banyak pertanyaan, penasaran. Tetapi sungkan mau bertanya takut mengganggu konsentrasi Nabi Dawud, dan rasa malu. “ Nabi Dawud bikin apa ya…” tanyanya dalam hati.  Luqman AS dengan sabar duduk di samping Nabi Dawud tanpa bertanya satu pun.

Dia menunggu sampai Nabi Dawud selesai mengerjakan pekerjaannya. Sampai akhirnya, Nabi Dawud selesai merajut dan mengenakannya sambil berkata:” Sebaik-baik baju perang adalah baju ini” Luqman AS merasa kagum dan berkata:” Diam itu termasuk hikmah, dan sedikit sekali orang yang melakukannya. Sebenarnya aku tadi hampir mau bertanya, apa yang kau buat gerangan, dan untuk apa. Sampai akhirnya Kau memperagakannya sendiri. Aku pun jadi tahu apa kegunaannya baju besi itu. Luqman AS, juga seorang yang pandai bersyukur akan nikmat yang telah  Allah berikan. Dia sangat faham sebagi makhluk ciptaan Allah Yang Maha Tinggi. Harus melaksanakan perintah Allah tanpa kompromi.

Luqman AS adalah seorang ayah yang bijak dan tegas membimbing anak-anaknya, agar bertqwa kepada Allah SWT. “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempesekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar”. Mengajak anak-anaknya mempercayai Keesaan Allah, tidak mempersekutukannya dengan keduniaan. Karena itu perbuatan syirik dan akan mendapat dosa besar. Apa yang dikerjakan oleh manusia adalah tanggung jawab masing-masing, tidak boleh menyalahkan orang lain.  Begitu juga agar senantiasa berbuat baik kepada orang tua, kepada ibunya yang telah susah payah mengandungnya, menyusuinya dan menyapihnya. Agar selalu berbuat baik kepada orang tua meskipun selisih paham. Harus tetap bertutur kata lembut bahkan sekadar berkata “ah” saat dipanggil. Tetapi apabila orang tua mengajak kepada perbuatan yang syirik atau menyekutukan Allah kita wajib menolaknya dengan lembut.

Nasehat kepada anaknya agar senantiasa berbuat baik kepada siapapun, kepada makhluk Allah. Karena perbuatan baik sekecil apapun, ibarat sebesar biji sawi, Allah kan menggantinya dengan pahala. Namun apabila perbuatan keji dan mungkar Allah akan membalasnya jua. Sesunggunya Allah Maha Halus dan maha Teliti. Semua tidak akan lepas dari pandanganNYA, ntah yang di dalam perut bumi maupun yang ada di langit. Wasiat Luqma AS kepada anak-anaknya adalah menyuruh manusia berbuat baik yang makruf dan cegah yang mungkar, ini adalah jalan akidah dan tauhid. Benahi diri dulu baru mengajak orang lain. Bersahaja lebih baik, karena Allahlah yang maha kaya. Tidak sombong.   Demikian kisah Seorang ayah bernama Luqman, yang namanya ada dalam surat di Al Quran urutan ke 31. Semoga kita dapat meneladaninya. Sekian terima kasih,Alhamdulillahirobbil’aalaamiin. Wassalamu’alaikum .  

BIDADARI BESI (Khaulah binti Azur)

Khaulah binti Azur sejak kecil sangat rukun dengan kakaknya Dhirar bin Azur. Mereka saling menyayangi. Khaulah tumbuh menjadi gadis yang cantik dan berakhlaq mulia, tetap punya keberanian dan kemauan yg kuat.Kemauan yang kuat dan kasih sayangnya pada sang kakak teruji ketika datang berita bahwa Dirar bin Azur yang tergabung dalam barisan mujahid , di tangkap Tentara Romawi Timur. Hati khaulah gelisah memikirkan nasib sang kakak. Maka di carilah jalan untuk tahu dimana kakaknya tertawan dan bergabunglah Khaulah dengan Pasukan Muslim yang di pimpin oleh Khalid Bin Walid, tanpa sepengetahuan beliau.

Saat Khalid bin Walid yang tengah memimpin pertempuran pasukan muslim melawan Romawi Timur, beliau terperangah saat melihat sepak terjang seorang prajurit berkuda. Gerakannya sangat lincah dalam menghantam barisan musuh.

Khalid terpesona dan berkata : " Andai ada beberpa orang segagah dia pasti dengan cepat musuh dapat dibuat tercerai berai." Khalid pun memberi komando : " Ayooo, kita bantu dia....!"

Sambil bertempur bersisian Khalid bertanya pada sang ksatria berkuda itu :" Saudara, kami kagum dengan keberanian anda siapakah anda gerangan ?"

Tanpa membuka penutup wajahnya prajurit tadi menjawab :" Saya khaulah binti azur , adik perempuan dari Dhirar bin Azur. Saya ingin membebaskan kakak saya yang tertawan oleh musuh. "

Tentu saja Khalid Bin Walid terkejut dengan keberanian dan semangat Khaulah yang ternyata seorang Muslimah. Beliau pun mengobarkan semangat pada pasukan tentara Islam. 

Berkat keberanian Khaulah, Prajurit muslim menjadi terbakar semangatnya dan dengan pekik takbir mereka berhasil mencerai beraikan barisan musuh. Khalid bin Walid pun mengutus Rafi bin Umairah untuk mengejar rombongan yang menawan Dhirar , khaulah pun ikut dalam barisan tersebut. Di lembah Salimah akhirnya romobngan Tentara Romawi di temukan dan mereke berhasil menemukan serta membebaskan  Dhirar bin Azur. Itulah kisah keberanian Sang Bidadari Besi Khaulah binti Azur .  

Sumber :  Buku : Kisah2 Tak TerlupakanKarya : Eka WardhanaPenerbit ; Rumah Pensil Publisher .Bandung Halaman : 28

Sumber gambar: https://images.app.goo.gl/11riUuXP8xCdKF928 dan https://images.app.goo.gl/9TGGz3ZMktKsiayH6

Ruqayyah dan Ummu Kultsum

Dua Putri Rasulullah SAW ini dilahirkan dalam jangka waktu yang tidak lama. Tumbuh dan besar bersama dalam cinta dan kasih sayang Dipinang dan dinikahkan dalam waktu yang bersamaan dengan dua putra Abu Lahab, paman Rasulullah SAW. Ruqayyah menikah dengan Utbah dan Ummu Kultsum menikah dengan Utaibah.  Ketika turun surat Al-Lahab, Ruqayyah dan Ummu Kultsum di kembalikan kepada Rasulullah SAW dan diceraikan oleh suami-suami mereka. 

Kemudian Ruqayyah dinikahkan oleh Rosulullah SAW dengan sahabat yang mulia Utsman bin Affan. Keduanya turut serta berhijrah ke Habasyah ketika musyrikin Mekah sudah sangat keterlaluan dalam menyiksa dan menyakiti orang-orang yang beriman. Di Habasyah, pasangan yang mulia ini dianugerahi seorang putra yang dinamai Abdullah. Ruqayyah dan Utsman juga turut serta dalam hijrah yang kedua dari Mekah menuju Madinah. Ketika tinggal di Madinah mereka dihadapkan dengan ujian wafatnya putra tunggal mereka yang sudah berusia 6 tahun. Tidak lama kemudian, Ruqayyah juga menderita sakit demam yang tinggi, dan meninggal.  Setelah Ruqayyah wafat, Rasulullah SAW menikahkan Utsman bin Affan dengan Ummu Kultsum. Mereka membangun rumah tangga hingga wafatnya Ummu Kultsum pada bulan Sya’ban tahun 9 H. Keduanya tidak dianugerahi putra ataupun putri. Ummu Kultsum dimakamkan bersebelahan dengan makam Ruqayyah. 

FATIMAH AZ-ZAHRA  

Beliau adalah Putri ke-4 Rasulullah SAW dengan Bunda Khadijah RA. Wanita mulia ini di beri nama oleh Rasulullah SAW Fatimah dengan gelar Az-Zahra (yang bersinar wajahnya). Selain itu Fatimah juga bergelar Ummu Abiihaa (Ibu bagi Ayahnya)  Fatimah lahir pada masa 5 tahun sebelum Ayahnya diangkat menjadi Rasul. Fatimah sangat mirip dengan Rasulullah SAW. Fatimah tumbuh dan besar dalam didikan dan bimbingan Rasulullah SAW dan Bunda Khadijah RA dengan ajaran akhlaq yang mulia dan penuh dengan kasih sayang serta mendapatkan contoh suri tauladan yang sempurna, sehingga Fatimah pun tumbuh menjelma menjadi sosok wanita yang selalu menjaga kesucian dan kehormatan diri dan keluarganya serta berakhlaq mulia dan terpuji. 

Ketika Ayahnya diangkat menjadi Rasul, Fatimah menjadi saksi pembangkangan kafir Quraisy terhadap apa yang dibawa oleh ayahnya.Fatimah selalu menemani, membantu, dan melindungi ayahnya. Fatimah pernah menyaksikan `Uqbah ibn Abi Mu`ayt menaruh isi perut binatang di punggung Rasulullah saat sedang sujud. Sambil menangis, Fatimah lari dan membersihkan kotoran tersebut dari punggung Rasulullah. Berbagai ujian hidup telah dilalui Fatimah dengan tegar dan bersahaja. Fatimah juga ikut merasakan penderitaan akibat pemboikotan yang dilakukan kaum kafir Quraisy. Penderitaan dan kesedihan Fatimah semakin lengkap ketika Ibundanya Khadijah ra jatuh sakit dan meninggal. Fatimah pun dengan setia mendampingi ayahnya dan menggantikan peran Ibundanya, oleh karena itulah Fatimah di gelari dengan Ummu Abiihaa.  Fatimah menikah dengan Ali bin Abi Thalib setelah lamaran Abu Bakar dan Umar untuknya ditolak oleh sang ayah.

Ali bin Abi Thalib adalah seorang laki-laki sholih yang cerdas, kesatria dan penuh keberanian. Kehidupan rumah tangga Fatimah dan Ali bin Abi Thalib sangat bahagia walupun mereka hidup dalam kekurangan dan kerja keras Fatimah memberi ayahnya cucu yang sangat disayangi oleh Rasulullah SAW yaitu Hasan, Husein, Zainab, Ummu Kultsum dan Muhsin yang meninggal ketika masih kecil Fatimah wafat kurang lebih 6 bulan setelah Rasulullah SAW wafat dalam usia 27 tahun. Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmatNya Fatimah Az-Zahra penghulu wanita penghuni surga.         

ZAINAB AL-KUBRA  

Membaca sirah Beliau membuat air mata mengalir, bagaimana tidak Beliau adalah wanita yang tegar dalam penderitaan terlebih tegar dalam memegang kuat aqidahnya.    Zainab Al-Kubra adalah putri dari manusia paling agung, contoh tauladan seluruh ummat, Rasulullah SAW dengan Ummul Mukminin, wanita paling mulia pula, Ibunda Khadijah RA.  Lahir dan besar dalam asuhan orang tua yang hebat dengan akhlaq al-Quran, menjadikan Zainab Al-Kubra tumbuh menjadi sosok wanita dengan perangai yang terpuji   Kecintaan dan kesetiaannya pada suaminya patut dicontoh oleh semua kaum wanita. 

Tetapi cintanya kepada Islam yang melebihi kecintaannya kepada suaminya adalah hal yang lebih patut untuk di teladani   Ketika Ayahnya, manusia paling agung di angkat Allah menjadi Rasul, Zainab beriman dan mengikuti agama ayahnya. Tetapi tidak demikian dengan suaminya, Abul 'Ash bin Ar-Rabi' Karena kecintaannya kepada Islam, Zainab yang saat itu sedang hamil rela meninggalkan suaminya dan berhijrah ke Madinah menyusul ayahnya.   

Enam tahun Zainab hidup dalam pengawasan ayahnya, Rasulullah SAW, selama itu pula Zainab tidak berhenti berdoa agar Allah berkenan melapangkan hati suaminya untuk menerima Islam sebagai agamanya.    Sampai suatu saat, ketika suaminya datang kepada Zainab meminta perlindungan dari Zainab atas barang dagangannya yang sudah di rampas oleh pasukan Islam, Zainab pun memberikan perlindungan kepada suaminya dan Rasulullah pun meminta keikhlasan para sahabat untuk mengembalikan barang rampasan itu.    Dengan lantaran melihat keagungan sifat Rasulullah SAW dan juga Zainab Al-Kubra inilah akhirnya Abul 'Ash bin Ar-Rabi' pun memeluk Islam Kebahagian pun meliputi hati Zainab Al-Kubra atas keimanan suaminya dan kembalinya suaminya kepadanya.     

Page 1 of 3