Kisah Sahabat dan Seekor Onta dalam Hijrah Rasulullah

Beberapa waktu yang lalu, tepatnya pada tanggal 20 Agustus 2020, merupakan hari yang sangat bersejarah bagi umat Islam. Hari itu bertepatan dengan tahun baru Islam, yaitu tahun 1442 Hijriyah.   Kali ini, saya akan menyampaikan dua kisah Rasulullah saw yang merupakan penggalan dari prosesi hijrah Rasulullah saw yang sering dilewatkan, hal ini karena tokoh utama dalam kisah ini adalah seorang sahabat anshar yang bernama Abu Ayyub al-Anshari dan seekor onta yang menjadi kendaraan Rasulullah saw selama dalam perjalanan.  

Setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh dari Makkah, akhirnya Rasulullah saw pun tiba di gerbang pintu kota Madinah. Rosululloh pun di sambut dengan sangat meriah oleh penduduk Madinah. Layaknya ada pesta, sepanjang jalas dihias dengan warna-warni keceriaan. Rumah-rumah milik warga pun nampak lebih bersih dari biasanya dan telah bersiap menerima tamu agung. Mereka memasak masakan yang paling lezat, menata ruang tamu dengan sangat rapi. Mereka semua mengharapkan Rasulullah saw akan berkenan singgah dan menjadikan rumah mereka sebagai tempat tinggalnya. Semua orang berharap agar rumahnya dijadikan tempat tinggal Rosululloh, terutama para tokoh dan orang – orang kaya.  

Setelah Nabi Muhammad saw memasuki pintu gerbang kota Madinah beliau langsung turun dari ontanya, untuk menyalami dan membalas sambutan hangat dari masyarakat kota Madinah. Mereka berebut agar bisa lebih dulu menyalami, memeluk dan mengelu-elukan Rasulullah saw.Tidak hanya itu, mereka juga berebut menggandeng tangan Nabi Muhammad, agar mau mampir ke rumahnya. Selain menggandeng tangan Rosululloh saw, mereka juga berebut menggelandang unta Rosululloh dan berharap agar unta tersebut berjalan menuju ruma mereka.   Akan tetapi, Rasulullah saw segera mencegah mereka dan memerintahkan agar untanya dibiarkan memilih tempat istirahatnya sendiri, dan di sanalah Rasulullah saw akan singgah.  

Onta itupun terus berjalan, melewati jalan yang di kanan dan kirinya terdapat rumah - rumah penduduk. Diantara rumah-rumah yang indah dan mewah di sepanjang jalan kota Madinah, terdapat sebuah rumah yang sederhana. Rumah tersebut dihuni oleh Sahabat Rosul, yaitu Abu Ayyub al-Anshari. Sahabat yang merasa rumahnya tidak pantas untuk disinggahi oleh manusia yang paling agung, yaitu Rosululloh Muahmmad saw. Namun sebenarnya, Abu Ayyub al-Anshari sangatlah cinta kepada Rosululloh saw, tapi karena rumahnya tidak mewah, sehingga merasa tidak layak dan tidak berani menawarkan rumahnya untuk di tempati oleh manusia paling mulia.  

Namun apa yang terjadi, justru onta itu terus berjalan melewati rumah-rumah mewah, dan akhirnya malah memasuki halaman rumah Abu Ayyub al-Anshari. Dengan demikian, rumah itulah yang dipilih Rasulullah saw sebagai tempat singgahnya. Betapa gembira dan bersukurnya Abu Ayyub al-Anshari melihat unta itu memasuki dan berhenti di halaman rumahnya. Sehingga Rosululloh pun menetapkan, bahwa beliau akan singgah dan tinggal sementara di rumah sahabat yang sangat rendah hati, yang hatinya terdapat jiwa yang tawadhu’, yaitu Abu Ayyub al-Anshari.      

 

Sumber gambar :   pixabay.com

GUBERNUR YANG SEDERHANA

Salman Al – Farisi adalah seorang Gubernur Kota Mada’in. Hampir semua orang atau penduduk Madain menyukai beliau yang suka menolong dan baik hati. Beliau juga orang yang sangat sederhana, tidak suka menonjolkan kemewahan. Bahkan beliau tidak pernah mengambil satu Dirham pun dari gajinya sebagai Gubernur. Uang gajinya sering diberikan kepada fakir miskin. Baju beliau pun juga biasa dan sederhana, tidak pernah nampak mewah layaknya seorang gubernur. Sehingga terkadang banyak orang yang tidak percaya kalau dirinya Gubernur. Sementara untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya Salman bekerja menganyam dari daun kurma menjadi keranjang, dll.

Suatu hari, di tengah pasar, saat Salman sedang bertugas keliling wilayah kepemimpinannya. Tiba-tiba ada seorang lelaki dari Syria berkata kepadanya dengan nada perintah : “ Hai, kemari! Tolong bawakan karung gandum ini ke rumahku !” Gubernur Salman mengangguk dengan sopan dan menjawab : “ Baiklah .” “ Tenang saja, nanti kau akan kuberi upah .” Lanjut lelaki Syria tadi kepada Salman. Tanpa banyak kata Salman Al-Farisi langsung mengangkat karung gandum ke punggungnya dan berjalan  mengikuti langkah lelaki Syria tadi.

Di tengah perjalanan banyak orang menyapa dan memberi hormat pada Gubernur Salman, bahkan ada yang berusaha untuk meminta karung gandum agar dialihkan untuk di bawanya. Tentu saja Salman menolak. Melihat kejadian itu lelaki Syiria tadi bertanya-tanya penuh keheranan kenapa banyak orang menyapa si pembawa karung itu. “Gubernur, apa yang kamu lakukan ? Mari biar ku bantu kubawakan karung gandummu itu !” seorang lelaki mendekat kepada Salman Al-Farisi. “ Tidak perlu, biar aku bawa sendiri, “ Jawab Salman lembut. Orang Syiria tersebut kaget. Ia segera sadar bahwa lelaki yang ia suruh membawakan karung gandum miliknya ternyata adalah seorang gubernur Kota Mada’in. “ Maafkan aku ! aku tidak tahu bila engkau adalah seorang Gubernur. Turunkalah karung gandum tersebut !’ kata lelaki syiria tadi sambil merasa menyesal. Salman Al-Farisi menggelengkan kepalanya dan berkata : “ Aku telah berjanji akan menolongmu. Jadi biarkan aku membawanya sampai ke rumahmu.” Betapa kagum lelaki Syria tadi melihat sikap dan perilaku Salam Al-Farisi, seorang Gubernur yang sangat sederhana, baik hati dan suka menolong.    

ASIYAH PEREMPUAN PENGHUNI SYURGA

Asiyah adalah satu perempuan mulia yang menjadi penghuni surga berkat keteguhan imannya. Perempuan yang patut kita teladani. Kisah Asiyah, istri Firaun, raja zalim di zaman

Asiyah adalah satu perempuan mulia yang menjadi penghuni surga berkat keteguhan imannya. Perempuan yang patut kita teladani. Kisah Asiyah, istri Firaun, raja zalim di zaman nabi Musa AS.


Kisah Asiyah mempertahankan keimanannya diabadikan Allah Swt dalam Alquran. Allah menceritakan kisahnya dalam Surah Tahrim ayat 11:

 “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir‘aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir‘aun dan perbuatannya,dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”
Ketika Nabi Musa mengalahkan para tukang sihir Fir’aun, keimanan Asiyah semakin mantap. Keimananya kepada Allah sebenarnya sudah lama tertanam di hatinya. Asiyah menolak menyatakan Fir’aun (suaminya) sebagai Tuhan. Benih-benih iman dalam hati Asiyah mulai tampak ketika ingin mengasuh Nabi Musa yang dihanyutkan di sungai. Saat itu Asiyah memohon kepada suaminya Fir’aun untuk tidak membunuh bayi mungil tersebut. Bahkan ia meminta untuk menjadikannya anak angkat.Asiyah berkata ,“Ia bisa menyenangkan hatiku dan hatimu, maka janganlah kau membunuhnya, karena bayi ini berasal dari negeri lain, bukan Bani Israil. Semoga ia bisa bermanfaat bagi kita”. Fir’aun pun mengabulkannya.
Setelah Nabi Musa tumbuh dewasa dan diangkat sebagai Nabi (utusan Allah), para tukang sihir Firaun berhasil dikalahkannya. Setelah mengetahui kekalahan tukang sihir itu, keimanan Asiyah semakin teguh. Asiyah semakin yakin bahwa ada Dzat yang menciptakan dan mengatur urusan manusia. Bukan Firaun suaminya yang mengaku mampu menghidupkan dan mematikan manusia.


Keimanan Asiyah pun akhirnya diketahui oleh Fir’aun. Setelah mengetahui jelas keimanan istrinya, Fir’aun pun menjatuhkan hukuman dan siksa yang berat. Kedua tangan dan kaki Asiyah diikat. Ia ditelentangkan di atas tanah yang panas, wajahnya dihadapkan ke terik sinar matahari. Manakala para penyiksanya kembali, Malaikat menutup sinar matahari sehingga siksaan itu tidak terasa.


Tak cukup sampai di situ, Fir’aun kembali memerintahkan para algojonya menjatuhkan sebongkah batu besar ke dada Asiyah. Naudzubillah, sungguh siksa yang amat berat dan sangat tidak manusiawi.


Ketika Asiyah melihat batu besar itu hendak dijatuhkan padanya, beliau pun berdoa kepada Allah Swt: ”Robbi Ibnilii ‘Indaka Baitan Fil Jannah. ” Artinya: ”Wahai Allah Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di Surga, (QS At-Tahrim, ayat 11).

Allah Swt pun memperlihatkan sebuah gedung di surga yang terbuat dari marmer berwarna mengkilat. Asiyah sangat bergembira, lalu ruhnya keluar menyusul kemudian barulah batu besar itu dijatuhkan pada tubuhnya. Beliau tidak merasakan sakit karena jasadnya sudah tidak bernyawa.


Rasulullah SAW juga memuji Asiyah dan tiga perempuan mulia lainnya. Beliau bersabda: “Sebaik-baik wanita penghuni Surga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim istri Fir’aun, dan Maryam binti ‘Imran.”

 

Sumber gambar : https://bincangsyariah.com/nisa/lima-keutamaan-asiyah-istri-firaun/

By bunda Irma Mukmillah Ridwan (PPMI JABAR)

Siapa yang tak kenal Abu Hurairoh?. Salahsatu sahabat mulia yang paling banyak mencatat hadist Kanjeng Rosululloh SAW.  

Awalnya Rosululloh SAW memberi julukan Abu Hir yang kemudian lebih populer dengan nama Abu Hurairoh atau bapaknya para kucing.  

Dikisahkan..  Abu Hurairoh punya baju yang lengan bajunya lebar, dan dia suka memasukkan kucing kecil ke lengan bajunya itu.  Sejak itulah dia sering di sebut Abu Hurairoh  (Bapak nya para kucing).

Rosululloh SAW pernah memberitahukan kepada para sahabat bahwa ada seorang wanita yang masuk neraka gara gara kucing.  Nabi mengatakan bahwa wanita itu tidak memberi makan kucing yang di ikatnya dan dia tidak melepas kucing itu agar mencari makanan sendiri. Dengan kata lain menyiksa.  

Dari kisah diatas menjadi inspirasi keluarga besar  kami untuk memelihara dan menyayangi kucing.

Masuk syurga karena kucing?... Mengapa tidak??

Selain itu yang membuat   semua anggota keluarga Bani Ahdan dan bani Bahruddin menyukai dan menyayangi kucing karena pengalaman  kakek saat Indonesia belum merdeka.  

Kakek Ahdan (kakek buyutnya Dzikya) bercerita kalau kakaknya yang kami panggil  Aki H Bahruddin  punya kisah unik dengan kucing.  
Pada zaman penjajahan  Belanda Aki termasuk orang yang di incar oleh Belanda, mengingat salahsatu action Aki mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri santri nya.  

Semua anggota keluarga sempat di ungsikan. Yang dirumah saat itu hanya Aki saja. Dan benar saja Belanda mengepung rumah Aki. Aki yang Qodarulloh punya ilmu bersembunyi di langit langit rumah,  jadi  Aki bisa merayap seperti cicak dan menempel diatas langit langit rumah. (Rumah orang sunda mah ada langit langit nya tidak seperti rumah di Jawa, banyak yang langsung genteng tanpa langit langit seperti rumah mbah nya Dzikya dari pihak ramanya  di Ponorogo ).  

Baik kembali ke kisah Aki.
Ketika Belanda masuk rumah Aki,  Aki yang menempel di langit langit rumah tak henti hentinya berdo'a dan melafalkan ayat suci Alquraan.  Belanda marah karena tidak menemukan Aki padahal Aki melihat mereka dr langit langit.  Dengan mata kepala sendiri Aki melihat isi  rumah di obrak abrik oleh Belanda. Dan  sebelum  Belanda meninggalkan rumah Aki, mereka (kata Aki sekitar 4 orang)  menembakkan senapannya secara membabi buta hingga salahsatu peluru kena kaki kanan Aki.

Ketika Belanda sudah menjauh dan dirasa aman, dengan menahan rasa sakit yang luarbiasa Aki turun dari langit langit. Darah segar mengucur tak henti,  pertolongan Allah pun datang, Allah Sang Maha Penyayang menggerakkan seekor kucing jantan,  kucing  itu menghampiri Aki yang mengerang kesakitan, lalu kucing tersebut  menjilati luka kaki Aki yang kena tembakan.

Masih kata Aki  berselang 3-4 hari luka di kaki Aki sembuh... Masya Allah.

Sejak itulah Aki bersumpah akan  menyayangi kucing dimanapun berada.  Bahkan salah satu wasiat beliau (Aki wafat bulan Mei  thn 92 saat saya mau Ujian SMA) agar semua anak, cucu dan buyut harus memelihara dan  menyayangi kucing dimanapun berada.
Saat wafat selain  meninggalkan kami Aki pun meninggalkan sekitar 23 ekor kucing peliharaannya.

Sekarang bani Bahruddin dan bani Ahdan  yang tersebar dibeberapa kota  semuanya penyuka kucing. Tak jarang  bani Bahruddin dan bani Ahdan  yang berjenis kelamin perempuan (termasuk saya) sering mendapat julukan Ummu Hurairoh.

Dan hari ini  kami  senantiasa bersyukur karena Allah mengizinkan memiliki kucing yang lucu nan menggemaskan,  yang suka duduk manis ketika saya mengajar di madrasah,  ikut berlari  menghantarkan kami sholat di Masjid. Dan menunggu kami dengan setia di gerbang saat kami pulang dari manapun.  

Ya Allah semoga apa yang kami lakukan terhadap mahkluk mu yang comel itu Engkau catat sebagai salahsatu amal sholeh kami.  Aamiin

KHADIJAH RA ; SAAT ISTRI MENJADI PENYOKONG DA'WAH SUAMI

Kala itu Rasulullah saw pulang dari rutinitas kesehariannya yaitu berda'wah. Sang istri Khadijah ra yang sedang menyusi putrinya Fatimah hendak berdiri dan berjalan menuju pintu maksud ingin menyambut kedatangan sang suami. Dengan isyarat nya Rasul menyuruh Khadijah untuk duduk kembali karna terlihat betapa lelah nya ia menyusui Fatimah. Setelah beberapa lama, diambil lah Fatimah kecil dari pangkuan ibunya itu lalu beliau tidurkan di tempat tidurnya. Setelah itu Rasul berbaring meletakkan kepalanya diatas pangkuan istrinya.

Dimulailah percakapan antara dua manusia yang teramat mulia ini. Rasul bertanya pada Khadijah apakah dia tidak menyesal menjadi istri seorang utusan Allah yang masa hidupnya digunakan sebagai masa perjuangan da'wah menegakkan kalimah Allah. Waktu, tenaga bahkan harta seakan tersita karna perjuangan ini. Ya sebagaimana kita tahu dalam sejarahnya bahwa Khadijah ini merupakan saudagar kaya raya dan sepertiga kekayaan kota Mekah adalah miliknya. Tapi tak ragu untuknya berkorban kekayaan yang dimilikinya demi kelancaran da'wah Rasulullaah.Mendengar pertanyaan suaminya itu, dengan tegas dan mantap ia menjawab "Sama sekali tidak wahai utusan Allah".

Apa yang harus disesali? Khadijah yakin apa-apa yang dibelanjakan dijalan-Nya akan mendapat keuntungan berlipat dan sungguh tak akan merugi."Justru aku yang menyesal saat ini. Sekarang aku sudah tidak punya apa-apa lagi untuk bisa membantu dan meringankan perjuangan da'wah mu wahai utusan Allah. Suamiku, jika aku mendahuluimu meninggalkan dunia ini dan aku telah dimakamkan. Jika suatu saat dirimu harus menyeberangi lautan untuk menunaikan da'wah tetapi saat itu tak ada yang bisa kau tumpangi, galilah kuburku ambillah tulang-tulangku dan rakitlah menjadi perahu dan teruskan perjalanan da'wahmu".

Maa syaa Allah betapa tingginya dukungan Khadijah pada da'wah Rasulullah, betapa besarnya cinta yang dimiliki untuk suaminya sehingga ikhlas dalam segala upayanya menyokong urusan - urusan kebaikan dan da'wah sang suami.Semoga kita bisa bercermin pada kemuliaannya ini. Pantaslah Rasul teramat mencintainya, Khadijah Radhiyallaahu 'anhaa.

 

Sumber gambar : nusagates.com

Page 1 of 4